Kabar Terkini

Perang Kognitif - Mengubah Perilaku Cara Kerja Otak Manusia dg Paltform

 







Berikut adalah rincian masalah yang dibahas dalam podcast tersebut, diurutkan secara kronologis dari awal hingga akhir pembicaraan, agar Anda mendapatkan gambaran utuh alur berpikirnya:

1. Masalah Buzzer & Lapangan Pekerjaan (Awal Podcast)

  • Serangan Personal & Fitnah: Saat masuk ke lingkaran pemerintah (Kemhan), Sabrang langsung diserang isu privilege (anak Cak Nun) dan dituduh hanya mencari uang/jabatan.

  • Akar Masalah Buzzer: Sabrang tidak sepenuhnya menyalahkan buzzer. Ia melihat masalah utamanya adalah kurangnya lapangan pekerjaan (disebutkan defisit 19 juta lapangan kerja). Banyak orang terpaksa menjadi buzzer atau menyakiti orang lain lewat tulisan hanya demi mencari makan.

  • Proyeksi Mental: Masyarakat sering memproyeksikan keinginan mereka sendiri (ingin kaya/jabatan) kepada orang lain. Mereka mengira Sabrang gila jabatan, padahal bagi Sabrang, kemewahan sejati adalah privacy dan freedom (yang justru hilang saat ia menjabat).

2. Evolusi Perang: Ancaman Perang Kognitif

  • Perang Fisik (Kinetik) Sudah Usang: Perang senjata/nuklir tidak efektif karena Mutually Assured Destruction (satu mati, semua mati).

  • Perang Ekonomi: Menghancurkan negara lewat krisis ekonomi (contoh 1998) lebih efektif daripada peluru.

  • Perang Kognitif (Masalah Utama): Ini adalah bentuk perang modern yang paling berbahaya.

    • Penjara Kebodohan: Musuh tidak perlu menghancurkan infrastruktur, cukup "memasak otak" warganya agar menghancurkan negaranya sendiri.

    • Tidak Sadar Dijajah: Orang merasa bebas padahal disetir oleh algoritma platform digital. "Penjara kebodohan itu enak," karena merasa benar sendiri dan nyaman mencaci maki.

3. Dampak Media Sosial & Pendidikan Anak

  • Perbedaan Pola Asuh (China vs Global): Di China, aplikasi seperti TikTok (Douyin) dibatasi dan algoritmanya diatur untuk sains/edukasi, sehingga anak-anak bercita-cita jadi astronaut. Di luar China (termasuk Indonesia), algoritma dibiarkan bebas (joget-joget), sehingga anak-anak bercita-cita jadi influencer.

  • Validasi Semu: Tombol "Like" awalnya dimaksudkan sebagai apresiasi, tapi berubah menjadi racun mental. Orang merasa berharga hanya jika dapat like, menciptakan generasi yang rapuh.

  • Masalah "Short-term Solution": Orang tua yang malas mengasuh anak memberikan gadget agar anak diam. Ini solusi jangka pendek yang menciptakan masalah jangka panjang (kerusakan kognitif pada generasi penerus).

4. Era Post-Truth & Hilangnya Sumber Kebenaran

  • Kebenaran yang Manis vs Pahit: Algoritma menyajikan apa yang kita sukai (manis) bukan apa yang benar (pahit/obat). Ini membuat masyarakat "diabetes informasi".

  • Hilangnya Sumber Kebenaran (Source of Truth): Kita tidak lagi punya patokan kebenaran. Media, pemerintah, dan tokoh semua dianggap punya kepentingan.

  • "No Viral No Justice": Masalah negara yang menumpuk berbulan-bulan tidak diurus, tapi begitu viral langsung selesai dalam 2 hari. Ini menandakan sistem pemerintahan sedang "di-hack" oleh viralitas, bukan bekerja berdasarkan data/sistem.

5. Bahaya AI & Hilangnya Realitas (Masa Depan Dekat)

  • Bukan Lagi Benar/Salah, tapi Ada/Tiada: Dengan adanya AI (Deepfake), kita akan masuk fase di mana kita tidak bisa membedakan apakah sebuah kejadian itu nyata atau tidak.

  • Potensi Chaos: Contoh video palsu pejabat (seperti deepfake Sri Mulyani) bisa memicu kerusuhan massal hanya dengan modal prompt AI.

  • Cassandra Effect: Sabrang merasa mengalami sindrom Cassandra—melihat bahaya masa depan (seperti bahaya medsos yang sudah ia teriakkan bertahun-tahun lalu), tapi tidak ada yang percaya sampai kejadiannya sudah terlambat.

6. Masalah Mentalitas Bangsa & Gotong Royong

  • Masyarakat Penonton Drama: Masyarakat Indonesia dikritik terlalu menikmati keributan (society of spectacle), suka melihat orang saling ejek, daripada mencari solusi.

  • Hilangnya Gotong Royong: Pemerintah dianggap gagal merawat nilai dasar bangsa ini. Polarisasi politik membuat orang enggan bekerja sama jika berbeda kubu.

  • Mentalitas "Asal Bapak Senang": Banyak orang hanya berani mengkritik di belakang (medsos), tapi tidak berani bicara langsung di depan meja (konfrontasi konstruktif).

7. Geopolitik & Konflik Global (Gaza & Perang Dunia 3)

  • Jebakan Moral vs Utilitas: Dalam kasus Gaza, banyak yang terjebak pada kemenangan moral (anti-Israel, tidak mau satu forum) tapi mengorbankan utilitas (bantuan nyata tidak sampai). Masalahnya adalah bagaimana hadir di forum musuh untuk membela teman, bukan lari dari forum.

  • Ketidaksiapan Menghadapi Krisis Global: Dunia sedang menuju ketidakstabilan (jatuhnya super power, potensi PD 3).

  • Ancaman Kelaparan: Jika terjadi chaos global (perang/ekonomi runtuh), hal yang paling fundamental adalah pangan. Masalah besarnya, masyarakat perkotaan tidak punya kemampuan/lahan untuk menanam (food security rendah). Sabrang mengingatkan bahwa dalam kondisi chaos, uang dan gadget tidak berguna, hanya makanan yang menjamin hidup.

8. Masalah Eksistensial (Penutup)

  • Ketakutan akan Kematian: Banyak masalah dan ketakutan muncul karena orang tidak siap mati. Sabrang menutup dengan poin filosofis bahwa jika seseorang sudah "siap mati", ia tidak akan mudah ditakut-takuti oleh ancaman duniawi (seperti serangan buzzer atau tekanan politik), sehingga bisa bekerja dengan benar.




No comments

Featured Post

Perang Kognitif - Mengubah Perilaku Cara Kerja Otak Manusia dg Paltform

  https://youtu.be/kMn9LpJIEGc?si=T1fHpQopZtl-htYG Berikut adalah rincian masalah yang dibahas dalam podcast tersebut, diurutkan secara kro...