Penurunan KOGNITIF Pada Anak Secara SENGAJA
MITIGASI BENCANA TEKNOLOGI
Download MATERI:
https://drive.google.com/drive/folders/1t0-J3R2AryA-rhmfteWmfJq9soFxUtD3?usp=sharing
DISKUSI PARENTING :
Reportase Parenting SD Islam An Nur Surabaya
"Nama saya Wawan Wahyu Effendi, aktivitas sehari-hari sebagai dosen di Universitas Dinamika (Stikom Surabaya) pada prodi S1 Pendidikan Teknologi Informasi. Kami mencetak guru-guru IT, jadi jika ada yang butuh informasi beasiswa silakan hubungi nomor di bawah ini. Saya izin tidak duduk karena ingin berinteraksi langsung menggunakan ponsel masing-masing nanti."
"Berdasarkan sensus penduduk terakhir, mayoritas penduduk kita adalah generasi Z. Saya ingin tanya, di sini yang kelahiran tahun 1981-1996 atau generasi milenial silakan angkat tangan. Ternyata banyak juga, lalu yang generasi X atau kelahiran 1965-1980 juga ada beberapa."
"Sekarang kita akan bicara tentang generasi alfa, yakni anak-anak yang lahir antara tahun 2013 sampai 2025. Menariknya, penelitian menunjukkan tingkat fokus generasi milenial itu 12 detik, sedangkan generasi Z hanya 8 detik. Untuk generasi alfa, tingkat konsentrasinya bahkan diperkirakan hanya sekitar 3 detik saja."
"Anak generasi alfa disebut sebagai digital native karena setiap detik waktunya sulit terpisah dari gadget. Kita tidak bisa melawan perkembangan teknologi selama masih tinggal di perkotaan dengan infrastruktur yang memadai. Indonesia sendiri masuk dalam tiga besar dunia sebagai penyumbang generasi alfa terbanyak setelah India dan China."
"Mari kita mulai berinteraksi, silakan keluarkan gadget panjenengan dan buka menti.com dengan kode yang tertera. Saya ingin tahu, apakah ibu-ibu mengizinkan anak memiliki smartphone sendiri sebagai hak miliknya? Ternyata hasilnya imbang, ada yang merasa itu kebutuhan zaman dan ada yang takut akan dampak kecanduannya."
"Lalu berapa lama rata-rata anak menggunakan smartphone setiap hari? Ada yang menjawab 1 jam, 2 jam, hingga 4 jam per hari. Salah satu ibu bercerita bahwa kuncinya adalah kesepakatan; jika anak menuruti aturan mama, maka mama juga akan menuruti keinginan anak."
"Terkait konten, banyak anak yang tidak melakukan pencarian manual melainkan hanya mengikuti algoritma short atau timeline. Hal ini cukup riskan karena mereka hanya mengonsumsi apa yang disajikan secara otomatis oleh platform. Untuk jenis aplikasi, mayoritas mengakses game seperti Roblox, Minecraft, atau Mobile Legends serta media sosial TikTok."
"Penting untuk diingat bahwa gadget dan game itu ibarat pisau; bisa bermanfaat atau justru melukai tergantung penggunaannya. Game bisa mengasah logika dan strategi, namun jika berlebihan bisa menyebabkan kecanduan, sikap antisosial, dan gangguan emosional. Kita harus menjadi pengontrol dan pendamping agar anak-anak tidak terjebak dalam sisi negatif teknologi."
"Mengenai AI (Artificial Intelligence), kita harus mengajarkan adab pengakuan karya kepada anak-anak agar mereka jujur. Jangan biarkan anak mengerjakan tugas sekolah sepenuhnya menggunakan AI tanpa ada proses berpikir dan pengakuan. Adab dan akhlak harus tetap menjadi pondasi utama yang ditanamkan baik di sekolah maupun di rumah."
"Terakhir, saya berpesan untuk menghindarkan anak-anak dari konsumsi video pendek secara terus-menerus karena merusak daya fokus. Mari kita dukung kebijakan sekolah jika membatasi penggunaan gadget karena menulis di buku tulis terbukti meningkatkan pemahaman. Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf jika ada salah kata, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
_______________________________
.png)
Analisa Google LM
Konten Debat Parenting Terbuka VS Protektif Pada Anak
Selamat datang di The Debate.
Oke, hari ini kita akan bahas topik yang eh kayaknya lagi bikin banyak orang tua pusing di rumah ya, gawai dan anak-anak khususnya ee generasi alfa, anak-anak kita yang lahir dan besar sepenuhnya di era digital. Buat mereka gawai itu bukan barang baru, tapi ya bagian dari dunia mereka sejak lahir.
Betul sekali. Dan pertanyaannya itu sekarang bukan lagi boleh enggak anak pakai gawai karena rasanya itu sudah mustahil dihindari. Pertanyaan yang lebih relevan sekarang adalah Bagaimana cara terbaik mengelolanya? Nah, di sinilah perbincangan kita dimulai. Apa pendekatan yang paling tepat untuk generasi alfa? Apakah kita harus menerapkan pembatasan yang ya sangat ketat untuk melindungi mereka dari semua risikonya?
Atau sebaliknya, apakah kita justru harus merangkul teknologi ini dan fokus pada integrasi yang terpandu, membekali mereka dengan literasi digital sejak dini supaya mereka siap menghadapi masa depan?
Saya akan berargumen untuk posisi yang kedua. Menurut saya integrasi terpandu yang fokus membangun literasi digital adalah pendekatan yang paling realistis dan dan ya yang paling mempersiapkan anak untuk dunia yang sesungguhnya.
Dan saya akan mengambil posisi sebaliknya. Saya percaya pada tahap perkembangan anak yang paling krusial ini, prioritas utama kita haruslah pembatasan yang jelas dan mitigasi risiko. Perlindungan terhadap perkembangan kognitif dan emosional mereka itu harus nomor satu.
Menahan ombak dengan tangan kosong mustahil kan? Jadi daripada menolaknya mentah-mentah Bukankah lebih bijak kalau kita beradaptasi dan mendidik anak-anak kita untuk bisa istilahnya berselancar di atas ombak itu? Karena kalau digunakan dengan benar, dengan pendampingan, gawai ini punya banyak sekali sisi positif. Contoh paling gampang game. Banyak orang lihat game sebagai racun. Tapi ayo kita lihat lebih dalam. Game seperti Roblox yang jumlah pemainnya di Indonesia itu tiga besar di dunia loh. Ternyata bisa jadi ajang latihan, berpikir komputasional dan logika. Anak tidak hanya bermain, mereka membangun dunia, membuat aturan berkolaborasi itu bukan hal sepele.
Mm, saya paham argumen itu, tapi bukankah itu terlalu menyederhanakan masalah? Kita bicara soal potensi manfaat, tapi seolah mengabaikan biaya yang harus dibayar. Prioritas kita seharusnya adalah melindungi aset paling berharga anak, perkembangan otaknya. Otak anak itu kan seperti spons ya, tapi juga sangat rapuh terhadap stimulasi yang berlebihan. Dan layar gawai adalah sumber stimulasi supernmal yang tidak ada tandingannya. Mari kita lihat datanya. Karena ini bukan sekedar opini. Penelitian menunjukkan penurunan rentang konsentrasi yang mengerikan dari generasi ke generasi. Generasi milenial rentang fokusnya sekitar 12 detik. Generasi Z turun jadi 8 detik. Dan untuk generasi alfa prediksinya sangat mengkhawatirkan. Ada yang menyebut bisa hanya 3 detik. Jujur angka itu membuat saya uh merinding.
Saya mengerti kekhawatiran soal rentang konsentrasi itu. Tapi mungkin cara kita memandangnya yang perlu diubah. Saya tidak melihatnya sebagai sebuah kerusakan, tapi lebih sebagai sebuah ya adaptasi. Otak anak-anak ini beradaptasi dengan lingkungan informasi modern yang memang super cepat. Mereka terbiasa menyerap informasi dalam potongan-potongan kecil dan visual. Nah, alih-alih memaksa mereka kembali ke model belajar zaman kita dulu yang mungkin terasa lambat dan membosankan bagi mereka. Bukankah seharusnya kita sebagai orang tua dan pendidik yang berinovasi kita bisa manfaatkan teknologi itu sendiri? Ciptakan metode pembelajaran yang lebih interaktif, yang visual. yang cocok dengan karakter gen alfa. Kita tidak bisa mengharapkan ikan untuk memanjat pohon, kan?
Tunggu, tunggu. Menyebut degradasi kapasitas kognitif sebagai adaptasi itu menurut saya adalah eufemisme yang sangat berbahaya. Kemampuan untuk fokus dalam waktu lama untuk berkonsentrasi pada satu hal itu bukan sekedar gaya belajar. Itu adalah fondasi dari pemikiran kritis, pemahaman mendalam, dan kreativitas sejati. Materi sumber kita bahkan memberikan peringatan yang sangat keras dan spesifik. Hindarkan anak anak dari yang namanya video pendek. Itu bukan saran lagi, itu sebuah keharusan. Kenapa? Karena video pendek itu melatih otak untuk terus-menerus menginginkan kejutan dopamin setiap beberapa detik. Akibatnya, aktivitas yang butuh kesabaran seperti membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru menjadi terasa seperti siksaan. Ini bukan adaptasi. Ini adalah penurunan fungsi eksekutif otak.
Tapi bagaimana dengan aspek sosialnya? Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa dunia digital adalah realitas sosial bagi mereka. Kembali ke contoh Roblox tadi. Bagi anak-anak sekarang itu bukan sekedar game, itu adalah taman bermain digital mereka, media sosial mereka. Di sana mereka janjian dengan teman sekolah, belajar bernegosiasi, bahkan menyelesaikan konflik. Tentu ada resiko. Saya tidak naif. Tapi resiko itu bisa dikelola. Kuncinya adalah pendampingan aktif. Tugas orang tua bukan lagi hanya berdiri di luar dan melarang, tapi ikut masuk ke dunia itu. Main bareng, kenali teman-teman virtualnya, ajar Etika berinteraksi di sana itu adalah bentuk literasi digital yang nyata.
Bisa menggantikan kompleksitas dan kekayaan interaksi sosial di dunia nyata. Di dunia maya tidak ada kontak mata, tidak ada bahasa tubuh, tidak ada nuansa intonasi suara yang harus dibaca. Empati yang sesungguhnya itu terbangun dari melihat ekspresi wajah teman saat kita bicara, bukan dari melihat Avatar. Akibatnya apa? Anak menjadi canggung di dunia nyata. Mereka jago berkomunikasi lewat teks, tapi gagap saat harus memulai obrolan tatap muka. Kesehatan mental dan kemampuan sosial anak di dunia nyata harus selalu jadi prioritas. Kita tidak bisa menukarnya dengan keterampilan sosial yang sebenarnya tidak lengkap di dunia maya.
Nah, di sinilah peran gaya pengasuhan menjadi penentu. Materi kita menyoroti pentingnya gaya pengasuhan otoritatif. Ini bukan tentang kebebasan tanpa batas, tapi juga bukan tentang kontrol diktator. Ini tentang dialog dan kesepakatan. Ketika orang tua duduk bersama anak dan berkata, "Oke, kamu boleh main game 1 jam setelah PR selesai dan mama akan pegang janji itu. Tapi setelah 1 jam, kamu juga harus pegang janjimu untuk berhenti tanpa drama. Apa yang terjadi di situ? Anak belajar regulasi diri, anak belajar tanggung jawab. Mereka merasa pendapatnya didengar dan dihargai. Pendekatan yang terlalu kaku yang hanya berisi larangan tanpa penjelasan, justru kontraproduktif, itu hanya akan mendorong anak untuk main gawa diam-diam yang jauh lebih berbahaya karena kita sama sekali tidak tahu apa yang mereka lakukan.
Otonomi itu harus diberikan sesuai dengan tingkat kedewasaan dong. Memberikan otonomi digital penuh pada anak usia 8 tahun yang otaknya belum matang untuk memahami konsekuensi jangka panjang itu menurut saya bukan pengasuhan otoritatif, itu kelalaian. Mereka belum punya rem kognitif untuk mengelola semua godaan itu. Di sinilah konsep adab yang dibahas dalam materi menjadi benteng utamanya. Maksudnya adab di sini bukan sekedar sopan santun, tapi fondasi perilaku. Ajarkan dulu adab menghargai waktu, adab menepati janji, adab mengelola emosi saat kalah atau marah. Setelah fondasi ini kuat, baru kita bisa bicara soal otonomi dan strategi praktisnya adalah menerapkan aturan bahwa gawai ini milik ayah bunda, kamu hanya meminjam. Ini bukan soal menjadi diktator, tapi soal menegaskan siapa yang punya kendali untuk memastikan keamanan.
Tapi bukankah kontrol semacam itu ilusi? Di zaman sekarang anak bisa mengakses gawai di mana saja. Di rumah teman, di sekolah pinjam dari saudaranya. Membangun benteng yang tinggi di rumah hanya akan membuat dunia luar terlihat semakin menarik. Bukankah lebih baik kita membekali mereka dengan kompas internal daripada membangun pagar eksternal yang suatu saat pasti akan mereka lompati? Kompas itu adalah literasi digital dan kemampuan berpikir kritis. Ajari mereka cara mengenali berita bohong, cara melindungi data pribadi, cara bersikap saat bertemu orang asing di dunia maya. Itu bekal seumur hidup. Kontrol hanya efektif selama kita ada di sana. Pendidikan akan melindungi mereka selamanya.
Saya setuju pendidikan itu penting. Tapi pendidikan butuh waktu dan kedewasaan untuk bisa diproses. Sementara itu, bahaya nyata dan instan. Predator online tidak akan menunggu anak kita cukup dewasa untuk memahami bahaya mereka. Kecanduan game bisa merusak prestasi akademik dalam hitungan bulan. Makanya kontrol dan pembatasan itu bukan untuk selamanya, tapi untuk periode emas perkembangan otak mereka. Kita lihat contohnya. Kenapa negara dengan sistem pendidikan terbaik seperti Finlandia justru kembali ke buku tulis dan pensil. Mereka pasti sudah menimbang untung ruginya. Mereka sadar bahwa kemampuan motorik halus dari menulis tangan dan kemampuan otak untuk fokus yang dilatih lewat membaca buku adalah fondasi yang tidak bisa ditawar. Fondasi itu harus dibangun dulu di dunia nyata sebelum anak dilepas ke dunia digital yang abstrak dan penuh distraksi.
Pada akhirnya pendekatan saya berakar pada keyakinan bahwa kita harus mempersiapkan anak untuk dunia yang akan mereka hadapi. bukan dunia ideal yang kita inginkan. Dan dunia yang akan mereka hadapi adalah dunia yang sepenuhnya terintegrasi dengan teknologi. Melarang atau membatasi secara berlebihan berisiko menciptakan generasi yang gagap teknologi. Maksudnya bukan sekedar tidak bisa mengoperasikan komputer, tapi tidak punya intuisi dan kelancaran dalam menavigasi ekosistem digital yang akan menjadi pusat pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sosial mereka. Membekali mereka dengan keterampilan navigasi melalui pendampingan aktif dan dialog adalah strategi yang lebih berkelanjut. Dan saya tetap berpegang pada prinsip bahwa rumah harus menjadi benteng perlindungan terakhir bagi anak. Dunia luar boleh jadi liar dan buas, tapi di dalam rumah, di bawah pengawasan kita, perkembangan mereka harus diutamakan. Dampak negatif gawai pada fokus, emosi, dan keterampilan sosial yang sudah terbukti secara ilmiah menuntut kita untuk bersikap tegas. Memperkuat fondasi belajar tradisional dan menanamkan adab yang kokoh adalah investasi. terbaik untuk kesehatan mental dan kesuksesan jangka panjang mereka. Kita bisa perkenalkan dunia digital secara bertahap setelah fondasi itu benar-benar kokoh.
Menyarik sekali. Meskipun kita berangkat dari dua kutub yang berbeda, integrasi versus proteksi, kita tampaknya selalu kembali ke satu titik yang sama, peran orang tua itu sendiri. Baik memilih pendekatan saya yang lebih terbuka maupun pendekatan Anda yang lebih protektif, keduanya akan sama-sama gagal total jika orang tuanya tidak hadir, tidak sadar, dan tidak terlibat secara mendalam. Dan dalam kehidupan digital anak.
Saya sangat setuju. Pada akhirnya metode apapun yang dipilih faktor penentu keberhasilannya adalah kehadiran dan kearifan orang tua dalam menerapkannya. Tidak ada solusi satu ukuran untuk semua. Diskusi ini menunjukkan betapa rumit dan berlapisnya isu ini. Masih banyak sekali aspek yang bisa kita gali lebih dalam dan kami harap ini bisa memicu pendengar untuk merenungkan pendekatan mana yang paling otentik dan sesuai dengan nilai serta kondisi keluarga. masing-masing
No comments