Kabar Terkini

Refleksi Tiap Akhir Tahun: "Ada Kalanya Kamu Seakan Diberi Hadiah Tapi Ternyata Itu Mencelakaimu!"






Hikmah ke-83: "Kadang Allah ngasih sesuatu ke kamu, tapi sebenarnya Dia lagi nge-block kamu. Dan kadang Allah nge-block kamu, tapi sebenarnya Dia lagi ngasih."

Gue jelasin ya: Biasanya jiwa kita yang masih suka ngikutin hawa nafsu itu bakal seneng banget kalau dikasih sesuatu, terus sedih banget kalau nggak dikasih. Soalnya kan kalau dikasih tuh enak, sesuai maunya. Jadi ya wajar dong seneng. Nah kalau nggak dikasih, berasa dicabut gitu yang enak-enaknya, jadi pasti kesel. Ini sih karena kita belum ngerti aja sama Allah, masih kurang paham.

Coba deh kalau kita bener-bener paham Allah, pasti ngerti kalau "nggak dikasih" itu sebenernya sama aja kayak "dikasih", dan "dikasih" itu sebenernya sama aja kayak "nggak dikasih". Nanti gue bakal jelasin lebih lanjut. Jadi pahamin deh tentang Tuhan kamu, jangan buruk sangka sama keputusan-Nya.

Kadang Allah ngasih yang kamu mau banget, tapi ternyata itu bikin kamu jauh dari Allah.

Kadang Allah nggak ngasih yang kamu mau, tapi ternyata itu bikin kamu makin deket sama Dia.

Kadang Allah ngasih kamu hidup enak di dunia, tapi ternyata itu ngalangin kamu dari nikmatnya deket sama Allah.

Kadang Allah ngasih makanan buat badan fisik kamu, tapi ngalangin makanan buat jiwa kamu.

Kadang Allah bikin kamu terkenal di mata orang, tapi ngalangin kamu dari perhatian Allah.

Kadang Allah ngasih kamu banyak ilmu dan otak yang pinter banget, tapi itu malah bikin kamu lupa sama Allah sendiri yang ngasih ilmu itu.

Kadang Allah ngasih kamu jadi orang sukses di dunia, tapi ngalangin kesuksesan kamu di akhirat.

Kadang Allah ngasih kamu jadi orang hebat yang bisa ngatur-ngatur dunia, tapi ngalangin kamu masuk ke alam spiritual yang lebih tinggi.

Kadang Allah ngasih kamu jadi pemimpin spiritual, tapi ngalangin kamu dari ngalamin sendiri gimana rasanya ngerasain keesaan Allah.

... dan masih banyak lagi yang cuma Allah doang yang tahu.

Ibnu Arabi pernah bilang: "Kalau lo ditolak, itu hadiah dari Dia. Kalau lo dikasih, itu penolakan dari Dia. Jadi mending pilih nggak ambil daripada ambil."

Buktinya ada di Al-Qur'an: "Bisa jadi kamu benci sama sesuatu, padahal itu bagus banget buat kamu." (Al-Baqarah: 216)

Kalau udah paham ini, kamu bakal ngerti kalau "ditolak" itu sebenernya "dikasih", kayak yang dijelasin di hikmah selanjutnya:


Hikmah ke-84: "Kapan aja kamu paham kenapa Allah nggak ngasih sesuatu, di saat itu juga 'nggak dikasih' berubah jadi 'dikasih' beneran."

Gue jelasin:

Kalau kamu udah bener-bener ngerti Allah, setelah kamu yakin banget sama rahmat-Nya, sayang-Nya, baik hati-Nya, dermawan-Nya, kuasa-Nya, dan luas ilmu-Nya, kamu bakal paham: kalau kamu minta sesuatu atau pengen sesuatu terus Allah nggak ngasih, sebenernya Dia ngelakuin itu karena sayang dan baik sama kamu. Bukan karena pelit, lemah, bodoh, atau lupa. Tapi karena Dia perhatian banget sama kamu dan pengen ngasih yang terbaik buat kamu, soalnya Dia yang paling tau apa yang baik buat kamu.

Kadang kita ngerasa tau yang terbaik buat kita, padahal ternyata itu malah bikin kita celaka. Kadang hal baik dateng dari hal yang susah, dan hal susah dateng dari hal yang keliatan enak. Kadang nikmat Allah disembunyiin di balik ujian, dan ujian disembunyiin di balik nikmat.

Contoh Cerita:

Anak Kecil: Kayak anak kecil yang liat makanan enak banget atau misal permen, tapi di dalamnya ada racun. Papanya tau. Setiap kali si anak mau ambil makanan itu, papanya ngelarang. Si anak nangis dong, kan nggak tau. Papanya tetep ngelarang paksa karena tau bahayanya. Kalau si anak ngerti, pasti dia sadar papanya care banget. Papanya pengen njagain gigi anak itu biar gak lubang dan tetap sehat selalu. 

Kisah Orang Desa: Ada orang bijak yang tinggal di desa terpencil. Suatu hari keledainya mati, anjingnya mati, ayamnya juga mati. Keluarganya komplain, tapi dia cuma bilang: "Alhamdulillah, pasti ada hikmahnya". Ternyata malem itu, ada perampok nyerang desa itu. Perampok cari tenda-tenda dari suara keledai, gonggongan anjing, sama kokok ayam. Tenda dia selamat karena nggak ada suara yang bocor.

Kesimpulan:

Asy-Syibli bilang: "Para sufi itu kayak bayi di pangkuan Allah." Artinya, Allah yang ngurus dan ngatur mereka sesuai yang terbaik buat mereka, nggak diserahin ke diri mereka sendiri.

Kenapa kita sering nggak paham? Karena kita cuma liat dari luarnya aja, nggak liat dalemnya.



Al-Hikam Ibnu Athoillah - Penjelasan Ibnu Ajibah (Kitab Iqozhul Himam Fi Syarh Al Hikam)

83

 ربّما أعطاك فمنعك، و ربّما منعك فأعطاك


Hikmah ke-83

"Boleh jadi Dia (Allah) memberimu, maka sebenarnya Dia menghalangimu. Dan boleh jadi Dia menghalangimu, maka sebenarnya Dia memberimu."

Aku (Syarah/Penjelas) berkata:

Kebiasaan bagi nafs ammarah (jiwa yang memerintah keburukan) dan lawwamah (jiwa yang menyesal) adalah merasa senang (lapang) dengan pemberian dan merasa sempit (sesak) dengan penolakan. Karena di dalam pemberian terdapat kesenangan dan syahwatnya, maka tidak heran ia merasa senang dengan itu. Sedangkan di dalam penolakan terdapat pemutusan materi dan pengabaian bagian-bagian kesenangannya, maka tidak diragukan lagi ia merasa sempit dengan itu. Hal itu disebabkan karena kebodohannya terhadap Tuhannya dan kurangnya pemahaman.

Seandainya ia paham tentang Allah, niscaya ia tahu bahwa penolakan itu adalah hakikat pemberian, dan pemberian itu adalah hakikat penolakan, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Maka pahamilah wahai Al-Faqir (orang yang butuh Allah) dari Tuanmu, dan janganlah menuduh-Nya (berprasangka buruk) dalam apa yang Dia berikan kepadamu.

  • Boleh jadi Dia memberimu apa yang diinginkan oleh jiwa, namun dengan itu Dia menghalangimu dari kehadiran di sisi Sang Maha Suci.

  • Boleh jadi Dia menghalangimu dari apa yang diinginkan jiwamu, maka dengan itu menjadi sempurnalah kehadiranmu dan keintimanmu dengan-Nya.

  • Boleh jadi Dia memberimu kesenangan dunia dan keindahannya, namun Dia menghalangimu dari keindahan Hadirat-Nya dan kecemerlangannya.

  • Boleh jadi Dia memberimu makanan bagi raga (fisik), namun menghalangimu dari makanan bagi ruh.

  • Boleh jadi Dia memberimu penerimaan dari makhluk, namun menghalangimu dari penerimaan Al-Haq (Allah).

  • Boleh jadi Dia memberimu ilmu-ilmu dan membukakan gudang pemahaman, namun dengan itu Dia memalingkanmu dari menyaksikan Al-Ma’lum (Dzat yang diketahui/Allah) dan mengenal Al-Hayyu Al-Qayyum.

  • Boleh jadi Dia memberimu kemuliaan dunia dan menghalangimu kemuliaan akhirat.

  • Boleh jadi Dia memberimu kemampuan mengelola alam semesta (mulk), namun menghalangimu masuk ke alam malakut.

  • Boleh jadi Dia memberimu maqam Quthbaniyah (kepemimpinan wali), namun menghalangimu menikmati kesaksian atas Fardaniyah (Ke-Esa-an Tunggal).

... dan hal-hal lain yang tidak terhitung kecuali oleh Sang Maha Mengetahui yang gaib. Ibnu Arabi Al-Hatimi r.a. berkata: "Jika engkau ditolak, maka itulah pemberian-Nya. Dan jika engkau diberi, maka itulah penolakan-Nya. Maka pilihlah untuk meninggalkan (keinginan) daripada mengambil." Saksi akan hal ini adalah firman Allah: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu." (Al-Baqarah: 216). Jika engkau paham ini, engkau tahu bahwa penolakan adalah pemberian, sebagaimana dijelaskan dalam hikmah berikutnya:

Hikmah ke-84

"Kapan saja Dia membukakan bagimu pintu pemahaman dalam penolakan, maka penolakan itu berubah menjadi hakikat pemberian."

Aku berkata:

Jika engkau telah paham tentang Allah wahai hamba, setelah engkau meyakini rahmat-Nya, kasih sayang-Nya, kemurahan-Nya, kedermawanan-Nya, berlakunya kekuasaan-Nya, dan keluasan ilmu-Nya, maka engkau akan tahu: bahwa jika engkau meminta sesuatu kepada-Nya atau menginginkan sesuatu lalu Dia menolaknya bagimu, sesungguhnya Dia melakukan itu karena rahmat dan ihsan (kebaikan) kepadamu. Karena Dia tidak menolakmu karena pelit, lemah, bodoh, atau lalai. Akan tetapi, itu adalah karena baiknya perhatian-Nya kepadamu dan penyempurnaan nikmat-Nya atasmu, karena Dia adalah Dzat yang paling sempurna perhatiannya dan paling terpuji kesudahannya.

Boleh jadi kita mengatur suatu urusan yang kita kira baik untuk kita, padahal berakibat buruk bagi kita. Boleh jadi manfaat datang dari sisi kesulitan, dan kesulitan datang dari sisi manfaat. Boleh jadi anugerah tersembunyi dalam ujian, dan ujian tersembunyi dalam anugerah.

Contoh Perumpamaan:

  1. Anak Kecil: Seperti anak kecil yang melihat makanan indah atau madu yang di dalamnya ada racun, sementara ayahnya tahu. Setiap kali si anak hendak menyambar makanan itu, ayahnya menolaknya. Si anak menangis karena tidak tahu, sedangkan ayahnya menolaknya dengan paksa karena tahu. Seandainya si anak berakal, niscaya dia tahu nasihat ayahnya dan betapa besarnya kasih sayang ayahnya.

  2. Kisah Orang Badui: Seorang yang arif tinggal di pedalaman. Suatu hari keledainya mati, anjingnya mati, dan ayamnya mati. Keluarganya mengeluh, namun ia berkata: "Khair (Baik/Ada kebaikan)". Ternyata malam itu, ada bangsa Arab (perampok) menyerang pemukiman itu. Perampok mencari tenda-tenda melalui suara keledai, gonggongan anjing, dan kokok ayam. Tenda pria ini selamat karena tidak ada suara yang membocorkan keberadaannya.

Kesimpulan:

Asy-Syibli berkata: "Para sufi adalah bayi-bayi di pangkuan Al-Haq (Allah) Ta'ala." Artinya, Allah yang mengurus penjagaan dan pengaturan mereka sesuai maslahat bagi mereka dan tidak menyerahkan mereka kepada diri mereka sendiri. Penyebab tidak adanya pemahaman tentang Allah adalah karena berhenti pada penampakan lahiriah (zhohir) tanpa melihat pada hakikat batiniahnya.



83- ربّما أعطاك فمنعك، و ربّما منعك فأعطاك.


قلت: الغالب على النفس الأمارة و اللوامة أن تنبسط بالعطاء، و تنقبض بالمنع، لأن في العطاء متعتها و شهوتها، فلا جرم أنها تنبسط بذلك، و في المنع قطع موادها و ترك حظوظها، و لا شك أنها تنقبض بذلك، و ذلك لجهلها بربها و عدم فهمها، فلو فهمت عن اللّه لعلمت أن المنع عين العطاء، و العطاء عين المنع، كما يأتي، فافهم أيها الفقير عن مولاك، و لا تتهمه فيما به أولاك، فربما أعطاك ما تشتهيه النفوس، فمنعك بذلك حضرة القدوس، و ربما منعك ما تشتهيه نفسك فيتم بذلك حضورك و أنسك. ربما أعطاك متعة الدنيا و زهرتها، فمنعك جمال الحضرة و بهجتها، و ربما منعك زينة الدنيا و بهجتها، فأعطاك شهود الحضرة و نظرتها. ربما أعطاك قوت الأشباح، فمنعك قوت الأرواح، و ربما منعك من قوت الأشباح، فمتعك بقوت الأرواح. ربما أعطاك إقبال الخلق فمنعك من إقبال الحق، و ربما منعك من إقبال الخلق فأعطاك الأنس بالملك الحق. ربما أعطاك العلوم، و فتح لك مخازن الفهوم، فحجبك بذلك عن شهود المعلوم، و معرفة



الحي القيوم، و ربما منعك من كثرة العلوم و أعطاك الأنس بالحي القيوم، فأحطت بكل مجهول و معلوم. ربما أعطاك عز الدنيا و منعك عز الآخرة، و ربما منعك من عز الدنيا و أعطاك عز الآخرة. ربما أعطاك التعزز بالخلق، و منعك من التعزز بالحق، و ربما منعك من التعزز بالخلق و أعطاك التعزر بالملك الحق. ربما أعطاك خدمة الكون، فمنعك من شهود المكّون، و ربما منعك من خدمة الكون، و أعطاك شهود المكوّن. ربما أعطاك التصرف في الملك و منعك دخول الملكوت، و ربما منعك من التصرف في الملك و منحك شهود الملكوت. ربما أعطاك أنوار الملكوت فمنعك الترقي إلى بحر الجبروت، و ربما حجب عنك أنوار الملكوت فأعطاك الدخول إلى حضرة الجبروت، ربما أعطاك القطبانية و منعك التمتع بشهود الفردانية، و ربما منعك القطبانية، و متعك بشهود سر الوحدانية، إلى غير ذلك مما لا يحصيه إلا علام الغيوب. قال ابن العربي الحاتمي رضي اللّه تعالى عنه:


إذا منعت فذاك عطاؤه، و إذا أعطيت فذاك منعه، فاختر الترك على الأخذ انتهى. و شاهده قوله تعالى: وَ عَسى‌ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ‌ [البقرة: 216]، فإذا فهمت هذا علمت أن المنع هو العطاء كما بينه بقوله:


84- متى فتح لك باب الفهم في المنع عاد المنع عين العطاء[1].


قلت: إذا فهمت أيها العبد عن اللّه بعد تحققك برحمته و رأفته و كرمه وجوده و نفوذ قدرته و إحاطة علمه علمت أنك إذا سألته شيئا أو هممت بشي‌ء أو احتجت إلى شي‌ء فمنعك منه، فإنما منعك ذلك رحمة بك و إحسانا إليك، إذ لم يمنعك من بخل و لا عجز و لا جهل و لا غفلة، و إنما ذلك حسن نظر إليك، و إتمام لنعمته عليك لكونه أتم نظرا و أحمد عاقبة: وَ عَسى‌ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَ هُوَ


[1] - أثبتها الشارح رضي اللّه تعالى عنه بلفظ" هو عين العطاء". قال العلامة خلف اللّه إن لفظة" هو" محذوفة في بلقي نسخ التصحيح. و ما أثبتناه أصوب و أبلغ، و اللّه تعالى أعلم. و في شرح سيدي زروق أثبتها بلفظ" هو" و ليس ببعيد.

___________



خَيْرٌ لَكُمْ وَ عَسى‌ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئاً وَ هُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ وَ أَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ‌ [البقرة: 216]، فربما دبّرنا أمرا ظننا أنه لنا، فكان علينا، و ربما أتت الفوائد من وجوه الشدائد، و الشدائد من وجوه الفوائد، و ربما كمنت المنن في المحن و المحن في المنن، و ربما انتفعنا على أيدي الأعداء و أوذينا على أيدي الأحباء، و ربما تأتي المسار من حيث المضار، و قد تأتي المضار من حيث المسار و لأبي الحسن الشاذلي رضي اللّه تعالى عنه في حزبه: اللهم إنا قد عجزنا عن دفع الضر عن أنفسنا من حيث نعلم بما نعلم فكيف لا نعجز عن ذلك من حيث لا نعلم بما لا نعلم، فمتى فتح لك أيها المريد باب الفهم عنه في المنع و علمت ما فيه من الشر و الخير و حسن النظر لك عاد المنع في حقك هو عين العطاء. و مثال ذلك: كصبي رأى طعاما حسنا أو حلواء أو عسلا و فيه سم و أبوه عالم بما فيه فكلما بطش الصبي لذلك الطعام رده أبوه، فالصبي يبكي عليه لعدم علمه، و أبوه يرده بالقهر لوجود علمه، فلو عقل الصبي ما فيه ما بطش إليه و لعلم نصح أبيه و شدة رأفته به، و مثال آخر كرجل صنع طعاما جيدا، و عمل فيه بصاقا و مخاطا أو قذرا و أتي به لمن لا يعرفه فكل من رآه و لم يعرف ما فيه بطشت نفسه إليه، فلو علم ما فيه ما بطشت نفسه، فإذا نهاه عنه من علم ما فيه اتهمه لعدم فهمه، كذلك العبد يبطش للدنيا أو الرياسة أو غير ذلك مما فيه ضرره فيمنعه الحق تعالى منه رحمة به و شفقة عليه و اعتناء به، فإذا فهم عن اللّه سلم الأمر إلى مولاه و لم يتهمه فيما أبرمه و قضاه، و إذا لم يفهم عن اللّه تحسر و ربما سخط، فإذا انكشف له سر ذلك بعد علم ما كان في ذلك من الخير، لكن فاتته درجة الصبر لقوله 7: «إنما الصبر عند الصدمة الأولى»، و انظر قضية الرجل الذي كان يسكن في البادية، و كان من العارفين، فاتفق له ذات يوم أن مات حماره و كلبه و ديكه، فأتى إليه أهله فقالوا له: حين مات الحمار مات حمارنا. فقال: خير ثم، قالوا: مات الكلب. فقال: خير. ثم قالوا: مات الديك. فقال: خير فغضب أهل الدار.


و قالوا: أي خير في هذا؟ متاعنا ذهب و نحن ننظر. فاتفق أن بعض العرب ضربوا على ذلك الحي في تلك الليلة فاجتاحوا كل ما فيه، و كانوا يستدلون على الخيام بنهيق الحمار و نباح الكلاب و صراخ الديكة، فأصبحت خيمته سالمة إذ لم يكن بقي من يفضحها، فانظر كيف كان حسن نظر الحق لأوليائه، و حسن تدبيره لهم، و كيف فهم الرجل العارف ما في ذلك من السر في أول مرة، فهذا هو الفهم عن اللّه رزقنا اللّه من ذلك الحظ الأوفر آمين. قال الشبلي: الصوفية أطفال في حجر الحق تعالى انتهى. يعني أنه يتولى حفظهم و تدبيرهم على ما فيه صلاحهم و لا يكلهم إلى أنفسهم، و اللّه تعالى أعلم، و سبب عدم الفهم عن اللّه هو الوقوف مع ظواهر الأشياء دون النظر إلى بواطنها، كما أبان ذلك بقوله:

No comments

Featured Post

Refleksi Tiap Akhir Tahun: "Ada Kalanya Kamu Seakan Diberi Hadiah Tapi Ternyata Itu Mencelakaimu!"

Hikmah ke-83: "Kadang Allah ngasih sesuatu ke kamu, tapi sebenarnya Dia lagi nge-block kamu. Dan kadang Allah nge-block kamu, tapi seb...