Mengapa AI Menurunkan Hasil Ujian PISA ? (Menurut Kepala Program PISA 2026)
https://youtube.com/shorts/e7Jv31Cxbc4?si=CV_YFURudxuiOunV
https://www.youtube.com/watch?v=MiHzd0aTIkA
Saya Andreas Schleicher, direktur bidang pendidikan dan keterampilan di OECD yang bertanggung jawab atas program PISA. PISA mengambil sampel representatif anak-anak berusia 15 tahun di setiap negara melalui tes berstandar internasional untuk mengukur tingkat pengetahuan beserta penerapannya.
Selain itu, PISA juga mengumpulkan banyak informasi kontekstual untuk memahami kondisi operasional siswa, guru, dan sistem pendidikan. Dari survei tersebut, hasil mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan saat ini ternyata agak mengecewakan.
Siswa dengan prestasi tertinggi justru cenderung adalah mereka yang tidak menggunakan kecerdasan buatan sama sekali. Sementara itu, di bidang sains yang menjadi fokus utama, trennya secara umum masih stabil dan belum banyak perubahan.
Namun, kita telah melihat penurunan tajam dalam kemampuan membaca yang padahal selalu menjadi dasar penting dari semua keterampilan. Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah adanya penurunan dalam jenis keterampilan membaca yang paling krusial di era AI ini.
Keterampilan tersebut mencakup kemampuan untuk melakukan triangulasi berbagai informasi, membedakan fakta dari opini, serta mengatasi ambiguitas. Saat ini, generasi muda memang telah menjadi lebih cepat dalam membaca, tetapi tingkat keakuratannya justru makin menurun.
Penurunan akurasi membaca tersebut tentu bukanlah sebuah tren yang sehat bagi perkembangan kognitif mereka. Kehadiran teknologi baru ini tampaknya perlahan mengurangi tuntutan pada kaum muda untuk berpikir kritis, merenung, membandingkan, dan mengkritik.
Akibatnya, mereka kini semakin terbiasa menjadi sekadar konsumen pasif dari pengetahuan yang sudah jadi. Perubahan perilaku semacam itu pada akhirnya terlihat sangat jelas dan berdampak negatif pada hasil pembelajaran mereka.
Sebagai analogi, Anda tentu tidak akan menjadi bugar hanya dengan menonton olahraga, melainkan harus dengan berolahraga secara langsung. Sama halnya dengan itu, siswa tidak akan menjadi lebih pintar hanya dengan mengonsumsi konten yang disuapkan kepada mereka.
Mereka hanya bisa menjadi lebih pintar dengan mengerahkan upaya berpikir dan belajar yang lebih keras. Sayangnya, banyak aplikasi AI saat ini yang justru dirancang hanya untuk mempermudah hidup kita dengan memberikan jawaban instan.
AI sering kali gagal mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, dan mungkin itulah yang tercermin dalam hasil evaluasi PISA tersebut. Menariknya, pada tempat yang mengajarkan siswanya cara menafsirkan bukti dari AI, penggunaannya justru berdampak lebih positif terhadap hasil pembelajaran.
Fakta ini menunjukkan bahwa pemahaman teknologi merupakan kunci utama dalam memanfaatkan kecerdasan buatan secara efektif. Mempersiapkan generasi muda dengan tingkat literasi AI yang tepat dapat menjadi penawar yang ampuh terhadap dampak negatif yang lebih besar.
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Literasi AI sebagai Solusi:
Temuan menunjukkan bahwa ketika siswa diajarkan secara sengaja untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi bukti dari AI, penggunaan AI justru bisa berhubungan positif dengan hasil belajar. Literasi AI yang tepat dapat menjadi penawar bagi efek negatif teknologi tersebut (2:12-2:31).
APA ITU LITERASI AI ?
(sebagai rekomendasi solusi):
dalam video (2:12-2:31), literasi AI bukan sekadar tahu cara menggunakan teknologi tersebut, melainkan kemampuan seseorang untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi bukti atau jawaban yang dihasilkan oleh AI secara kritis.
Berikut adalah inti dari literasi AI menurut Andreas Schleicher:
Berpikir Kritis:
Alih-alih hanya menerima jawaban yang "siap pakai" (pre-fabricated), siswa harus dilatih untuk mempertanyakan dan memverifikasi informasi tersebut.
Kemampuan Menilai: Siswa perlu memahami kapan dan bagaimana menggunakan AI sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir.
Antidote (Penawar):
Literasi AI berfungsi sebagai penyeimbang agar teknologi tidak membuat siswa menjadi pasif, tetapi justru membantu mereka mengasah kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik.
Dengan memiliki literasi yang tepat, penggunaan AI tidak akan merusak hasil belajar, melainkan bisa berhubungan secara positif dengan peningkatan pemahaman siswa.
_____________________________________
Jujur, setelah melihat laporan PISA 2025 ini, rasanya kecewa dan cukup mengkhawatirkan. Teknologi yang seharusnya mempermudah kita justru tampak menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis generasi muda. Berikut adalah poin-poin penting yang disampaikan dalam video tersebut:
Hubungan AI dan Performa Akademik:
Ada tren yang bikin 'shock', yaitu murid dengan hasil belajar tertinggi justru cenderung jarang menggunakan AI dalam proses belajarnya (0:00-0:11).
Penurunan Skill Membaca:
Kemampuan membaca, yang dianggap sebagai 'ibu' dari segala keterampilan, mengalami penurunan tajam. Siswa memang menjadi lebih cepat saat membaca, namun akurasi dan pemahaman mendalam mereka justru memburuk (0:43-1:18).
Hilangnya Kemampuan Kritis:
Teknologi membuat siswa lebih pasif sebagai konsumen jawaban 'siap saji'. Akibatnya, kemampuan krusial seperti membedakan fakta vs opini, serta menavigasi ambiguitas, semakin tumpul (1:22-1:40).
Paradoks Usaha Belajar:
Belajar itu seperti olahraga; kamu tidak bisa menjadi bugar hanya dengan menonton. Siswa tidak akan menjadi lebih cerdas hanya dengan mengonsumsi konten, melainkan harus berupaya secara kognitif (1:42-2:09).
Penjelasan Mengenai Solusi:
1. Apa itu Triangulasi?
Dalam video, triangulasi adalah kemampuan untuk menyambungkan berbagai potongan informasi dari sumber yang berbeda (1:04-1:08). Di era AI, tantangannya adalah kita sering menerima jawaban instan tanpa memverifikasi. Triangulasi menuntut kita untuk membandingkan data, mengecek kebenarannya dari berbagai sudut pandang, dan tidak menelan mentah-mentah hasil dari AI.
2. Apa itu Literasi AI?
Literasi AI bukan sekadar bisa pakai aplikasi AI, tapi tentang bagaimana kita memahami cara kerja AI agar bisa menggunakannya sebagai alat bantu, bukan pengganti otak (2:11-2:31). Ini mencakup kemampuan untuk menginterpretasikan bukti, mempertanyakan logika AI, dan memvalidasi informasi yang dihasilkan. Jika diajarkan dengan benar, AI bisa menjadi penawar atau 'antidot' terhadap dampak negatifnya, membantu siswa belajar lebih efektif.
No comments