Kabar Terkini

Gerakan Tanah di Jawa Timur

 



Laporan Analisis Gerakan Tanah — Jawa Timur
BPBD Provinsi Jawa Timur · Laporan Analitik

Analisis Gerakan Tanah
Jawa Timur

Laporan komprehensif kejadian gerakan tanah seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur beserta analisis risiko, pola temporal, dan rekomendasi mitigasi bencana.

Periode Data2016 – 2026
Total Kejadian119 Kasus
Kab/Kota Terdampak25 Wilayah
StatusSELESAI SEMUA
📊 Data BPBD Jawa Timur · Diperbarui: Mei 2026 · 119 Rekaman
01

Ringkasan Eksekutif

EXECUTIVE SUMMARY · GERAKAN TANAH JAWA TIMUR

119
Total Kejadian Tercatat
25
Kabupaten/Kota Terdampak
2
Risiko TINGGI
21
Risiko SEDANG
96
Risiko RENDAH

Berdasarkan data BPBD Provinsi Jawa Timur periode 2016–2026, tercatat 119 kejadian gerakan tanah yang tersebar di 25 kabupaten/kota. Seluruh kejadian berstatus SELESAI dan telah ditangani koordinasi BPBD Provinsi dan Kabupaten/Kota. Penyebab dominan adalah hujan intensitas sedang hingga lebat yang jenuhkan lapisan tanah, khususnya di kawasan lereng perbukitan. Kabupaten Pacitan mendominasi dengan 28 kejadian (23,5%), diikuti Ponorogo dengan 23 kejadian (19,3%) dan Trenggalek dengan 21 kejadian (17,6%). Ketiga kabupaten ini berbagi karakteristik geologis berupa morfologi perbukitan dengan kemiringan tinggi di kawasan selatan Jawa Timur.

Distribusi Tingkat Kejadian per Kabupaten/Kota
Proporsi Tingkat Risiko
RENDAH
96
SEDANG
21
TINGGI
2
02

Distribusi Per Wilayah

ANALISIS SPASIAL · SELURUH KABUPATEN DAN KOTA

Ranking Kejadian Per Kabupaten/Kota (Seluruh Wilayah Terdampak)
Top 10 Wilayah Tertinggi — Ranking Bar
Cluster Geografis Risiko
🔴 ZONA SANGAT TINGGI
Pacitan (28), Ponorogo (23), Trenggalek (21) — 72 kasus / 60,5% dari total kejadian. Kawasan pegunungan selatan JaTim dengan topografi curam.
🟡 ZONA TINGGI
Malang (8), Nganjuk (6), Jombang (3), Madiun (3), Batu (9) — kawasan lereng Arjuno-Welirang dan Wilis dengan aktivitas gerakan tanah signifikan.
🔵 ZONA SEDANG
Pamekasan (3), Jember (5), Lamongan (6), Bojonegoro (1), Blitar (3), Pasuruan (1), Tulungagung (4) — wilayah sporadis dengan pola musiman.
🟢 ZONA RENDAH
Gresik (2), Sumenep (1), Bondowoso (1), Situbondo (1), Kediri (1) — kejadian jarang, bersifat lokal dan spesifik kondisi setempat.
03

Analisis Temporal

POLA WAKTU · TREN TAHUNAN DAN MUSIMAN

Tren Kejadian Per Tahun (2016–2026)
Distribusi Bulanan (Pola Musiman)
Kronologi Tahunan
2016
13
kejadian · Trenggalek dominan · Musim hujan Nov–Des aktif
2017
10
kejadian · Ponorogo & Trenggalek · Awal musim hujan Maret–April
2018
12
kejadian · Ponorogo puncak · Intensitas hujan tinggi Feb
2019
5
kejadian · Relatif rendah · Lamongan & Pacitan
2020
4
kejadian · Terendah periode ini · COVID-19 pengaruhi pelaporan
2021
8
kejadian · Malang & Batu aktif · Banjir bandang Semeru
2022
26
kejadian · PUNCAK TERTINGGI · Pacitan & Ponorogo dominan
2023
13
kejadian · Penurunan signifikan · Ponorogo & Pacitan
2024
9
kejadian · Stabil menurun · Pacitan & Trenggalek
2025
11
kejadian · Sedikit meningkat · Trenggalek & Pacitan
2026
2
kejadian (Q1) · Ponorogo & Pacitan · Data parsial

Temuan Temporal Kunci: Tahun 2022 menjadi puncak kejadian dengan 26 kasus dalam setahun — kemungkinan dipengaruhi anomali curah hujan La Niña. Pola musiman menunjukkan konsentrasi kejadian pada bulan Oktober–Maret (musim hujan), dengan puncak di November–Februari. Bulan kering April–September relatif aman kecuali kejadian dipicu faktor non-hujan (galian, rembesan pipa, dll).

04

Analisis Tingkat Risiko

RISK ASSESSMENT · KLASIFIKASI BAHAYA PER WILAYAH

Risiko TINGGI
Risiko SEDANG
Risiko RENDAH (Top 10)
Matriks Risiko Per Kabupaten/Kota
# Kabupaten/Kota Total Kejadian Rendah Sedang Tinggi % Serius (≥Sedang) Level Risiko Dominan Keterangan
05

Profil Detail Per Wilayah

WILAYAH PRIORITAS · KARAKTERISTIK & POLA KEJADIAN

Perbandingan Kejadian: 3 Kabupaten Tertinggi Per Tahun
06

Rekomendasi Mitigasi

DISASTER RISK REDUCTION · STRATEGI & AKSI PRIORITAS

Rekomendasi ini disusun berdasarkan analisis pola, frekuensi, tingkat risiko, dan karakteristik geografis kejadian. Difokuskan pada tiga kabupaten prioritas (Pacitan, Ponorogo, Trenggalek) namun dapat diterapkan secara adaptif di seluruh wilayah terdampak.

A. Mitigasi Struktural & Fisik

REC · 01
Sistem Drainase & Konsolidasi Lereng
Perbaikan dan pembangunan saluran drainase lereng di kawasan rawan, terutama di Pacitan (Kec. Tulakan, Arjosari) dan Ponorogo (Kec. Slahung, Sawoo, Ngrayun).
  • Pemasangan dinding penahan tanah (retaining wall) di titik kritis
  • Revegetasi lereng dengan tanaman berakar dalam (vetiver, bambu)
  • Drainase permukaan dan bawah permukaan terintegrasi
  • Perkuatan lereng tebing dengan geotextile atau gabion
REC · 02
Relokasi Hunian Zona Merah
Identifikasi dan relokasi permukiman di zona bahaya gerakan tanah tinggi, khususnya kejadian berulang di lokasi sama.
  • Pemetaan ulang zona bahaya berbasis data historis
  • Prioritas relokasi: Ds. Wates Slahung (Ponorogo — 4x kejadian)
  • Prioritas relokasi: Kec. Tulakan Pacitan (6+ kejadian)
  • Penyediaan hunian pengganti dengan analisis geoteknik
REC · 03
Sistem Peringatan Dini (EWS)
Instalasi sistem peringatan dini gerakan tanah terintegrasi di seluruh kecamatan berisiko tinggi.
  • Alat ukur curah hujan otomatis (tipping bucket) + IoT
  • Sensor pergeseran tanah (extensometer) di lereng kritis
  • Integrasi dengan sistem BMKG dan BPBD real-time
  • Jalur peringatan dini ke masyarakat (SMS, sirine)

B. Mitigasi Non-Struktural & Kapasitas

REC · 04
Penguatan Kapasitas Masyarakat
Program pelatihan dan edukasi kebencanaan berbasis komunitas (DESTANA) di desa-desa rawan.
  • Pembentukan Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) di 50 desa prioritas
  • Pelatihan evakuasi mandiri dan pertolongan pertama
  • Simulasi bencana rutin minimal 2x/tahun
  • Pembuatan jalur evakuasi dan peta risiko desa
REC · 05
Regulasi Tata Ruang & RTRW
Penguatan regulasi tata ruang berbasis risiko bencana di kabupaten-kabupaten prioritas.
  • Review RTRW dengan overlay peta bahaya gerakan tanah terbaru
  • Larangan IMB di zona merah gerakan tanah
  • Pengendalian alih fungsi lahan di kawasan lereng
  • Moratorium galian C di kawasan rawan
REC · 06
Penguatan Sistem Respons BPBD
Peningkatan kapasitas dan kecepatan respons BPBD di kabupaten prioritas.
  • Pra-posisi alat berat (excavator, chainsaw) di Pacitan & Ponorogo
  • Penguatan Pusdalops 24/7 dengan SDM terlatih
  • MoU dengan TNI/Polri untuk respons cepat lintas sektor
  • Anggaran dana siap pakai (DSP) yang cukup di musim hujan

C. Prioritas Aksi Jangka Pendek (0–12 Bulan)

Aksi Lokasi Prioritas Instansi Penanggung Jawab Timeline Urgensi
Pemetaan ulang zona bahaya gerakan tanah berbasis LiDAR Pacitan, Ponorogo, Trenggalek PVMBG + BPBD Prov Q1–Q2 2026 KRITIS
Instalasi EWS di 30 titik kritis Kec. Tulakan, Slahung, Panggul, Ngrayun BPBD + BMKG + Pemkab Q2 2026 KRITIS
Relokasi darurat 200 KK zona merah aktif Ds. Wates Slahung, Kec. Tulakan Pacitan BPBD Kab + Dinas Perkim Q2–Q3 2026 KRITIS
Pembangunan 50 unit drainase lereng darurat Pacitan Selatan, Ponorogo Selatan Dinas PUPR Kab Q2–Q4 2026 TINGGI
Pelatihan DESTANA 50 desa rawan Seluruh kabupaten terdampak BPBD Kab + BNPB Q2–Q4 2026 TINGGI
Review & update RTRW berbasis risiko bencana Pacitan, Ponorogo, Trenggalek Bappeda + BPBD Kab Q3–Q4 2026 TINGGI
Restorasi lahan kritis & revegetasi lereng DAS Grindulu (Pacitan), lereng Wilis Dinas LHK + BPBD Q3 2026 – Q1 2027 MEDIUM
07

Kesimpulan

CONCLUSION · TEMUAN UTAMA

TEMUAN · 01
Konsentrasi Geografis Ekstrem
Tiga kabupaten (Pacitan, Ponorogo, Trenggalek) menanggung 60,5% dari seluruh kejadian. Ketiganya memiliki morfologi perbukitan selatan yang rentan dengan curah hujan tinggi sebagai pemicu utama.
TEMUAN · 02
Puncak Kejadian 2022
Tahun 2022 mencatat 26 kejadian — tertinggi dalam periode 2016–2026. Korelasi dengan anomali La Niña perlu dikonfirmasi untuk proyeksi ke depan dalam konteks perubahan iklim.
TEMUAN · 03
Hujan sebagai Pemicu Dominan
Lebih dari 95% kejadian secara eksplisit menyebut hujan intensitas sedang–lebat sebagai pemicu. Sistem peringatan dini berbasis curah hujan sangat relevan dan efektif untuk wilayah ini.
TEMUAN · 04
Respons BPBD Efektif
Seluruh 119 kejadian telah berstatus SELESAI, menunjukkan kapasitas koordinasi BPBD Prov–Kab yang cukup baik. Namun percepatan pencegahan lebih penting dari respons reaktif.
TEMUAN · 05
Wilayah Berulang
Beberapa lokasi mengalami kejadian berulang (Ds. Wates Slahung, Kec. Tulakan Pacitan, Kec. Panggul Trenggalek), mengindikasikan perlunya intervensi permanen dan relokasi strategis.
TEMUAN · 06
Kesiapsiagaan Musiman
Oktober–Maret adalah periode kritis. Aktivasi siaga bencana, pra-posisi alat, dan penguatan sistem komunikasi harus dilaksanakan sebelum musim hujan setiap tahunnya.

BPBD Provinsi Jawa Timur · Laporan Analisis Gerakan Tanah 2016–2026
Data bersumber dari Sistem Informasi BPBD Jatim · Diolah & divisualisasikan oleh Tim Analitik Kebencanaan
Laporan ini bersifat indikatif dan ditujukan untuk keperluan perencanaan mitigasi bencana. Verifikasi lapangan tetap diperlukan.

No comments

Featured Post

Gerakan Tanah di Jawa Timur

  Laporan Analisis Gerakan Tanah — Jawa Timur BPBD Provinsi Jawa Timur · Laporan Analitik Analisis Gerakan Tanah Jawa Timu...